Sejak lulus SMA – di ujung timur pulau Madura, aku punya hobi baru. Yaitu “ngopi”. Lebih dari sekedar minum kafein, “ngopi” bagiku adalah sarana yang cukup efektif untuk berinteraksi. Dengan siapa saja, tentang apa saja.
Paciran yang menampungku dalam 7 bulan, membuat kegilaanku akan “ngopi”semakin menjadi. Terbawa hingga ke kota onde-onde, mojokerto…
Malam mengarahkan kakiku pada sebuah waroeng kopi sederhana – meski tampak lebih besar dari waroeng kopi yang biasa aku jumpai sebelum-sebelumnya. Kepada wanita 30 tahunan aku memesan dengan logat jawa timuran:
“mbak kopi” lalu kusulut rokok.
“sak bubuke ta mas?” senyumnya penuh makna.
Meski tak memandang kepadanya, dahiku terpaksa mengernyit. Dalam benak, sebuah pertanyaan besar muncul: apa ada kopi yang bukan bubuk? Sekedar berniat menjawab penasaran, kujawab saja
“enggih mbak”
“o, nek sak bubuke sampean mlebet mawon mas…” tangan kanan mengaduk kopi dalam cangkir, tangan kiri menyingkap kain pembatas ruang di dalam. Astaghfirullahaladhim… (sok alim, cak2…) tampak beberapa wanita berdandan semlohai berpakaian minim senyum ramah. Genit merayu…
Alamak. Aku paham sekarang apa arti bubuk dalam “kopi sak bubuke”. Semoga kamu juga ngerti
bedjo.kampoengan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Cangkir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Cangkir. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Juni 2009
Sabtu, 18 April 2009
Madura 'Yahudi' Indonesia?
Baru kemarin saya dapat ungkapan yang begitumengerikan tentang Madura dari teman saya. “Yahudi dunia itu Israel. Tapi Yahudi Indnesia itu madura” pembicaraan ini saya dapatkan dari perbincangan santai di warung kopi seusai kuliah. Terus terang saya tertegun untuk mencerna ungkapan yang begitu radikal ini.
Kemudian ketka saya masih dalam kebimbangan. Lantas saya mencoba untuk membuka blog komunikasi. Saya menemukan hal yang sama dan juga membuat saya tergetar. Kali ini ungkapannya muncul dari semarang. Juga senafas. “Yahudi dunia adalah Israel. Tapi yahudi Indonesia adalah Madura”.
Saya menadi curiga tentang statemen ini. Jangan-jangan telah menjadi sebuah kosmos yang tak mugkin lagi untuk di hentikan. Apa benar Madura itu seperti apa yang selama ini dibayangkan oleh orang lain. Apa benar madura merupakan lambang dari keserakahan Indonesia?
Kalu menurut teman saya. Alasan yang mendasari ugkapannya – yang menyatakan kalau madura adalah yahudinya Indonesia – karena keserakahan orang madura sama dengan orang Israel. Kemudian perampasan tanah milik orang lain dengan se enak sendiri merupakan hal yang amat biasa di sini. Terus terang aku meragukan apa yang dikataannya. Aku tak pernah menjumpai hal-hal yang dikatakannya lewat di depan mataku sendiri. Kalaupun kau melihatnya langsung. Akupun aka berpikir ribuan kali untuk membenarkan apa yang dikatakannya. Pasalnya tidak adil menilai sebuah kelompok masyarakat dari kacamata hidup kita yang jauh dari kebenaran. Dan tidak pantas kita menyatakan adanya kesamaan antara Israel yang bagsat itu dengan Madura. Hal ini bukan karena saya tinggal dan kuliah di Madura.
Bagi saya hal yang membentuk dunia ini ada dua hal. Baik, buruk. Hitam dan putih. Positif dan negatif. Karena dua kutub itu yang akan menyeimbangkan kehidupan di dunia ini. Hanya kebaikan yang ada di dunia ini, maka hidup akan terkesan mudah. Tidak ada yang dapat menguji seberapa persen dia menjadi manusia. Begitu juga hanya keburukan saja isi dunia ini. Maka tidak akan ada yang namanya kemanusiaan. Dan tentang kebaikan dan keburukan seperti kata FX Rudi Gunawan. Manusia itu pada dasarnya baik. Atau paling tidak ada sedikit kebaikan yang menyertainya. Dan sebaliknya manusia itu pada dasarnya buruk, hanya saja bagaimana dia memperjuangkan kebaikan di dalam dirinya.
Saya kurang sepakat dengan ungkapan diatas karena tidak baik menilai madura tanpa dasar seperti itu. Saya sendiri bukan orang Madura karena saya orang Surabaya. Saya tidak pernah percaya akan simbol-simbol. Baik itu Madura, Jawa, Batak, Dani dan semua suku di Indonesia. Aku tudak pernah melihat itu semua. Aku hanya percaya kepada kebaikan dan humanisme. Begitu pula dengan pandangan hidupku yang juga diajarkan oleh kawanku Amir yang juga orang Madura. Bahwa saya tak pernah salut (kagum) pada orang pinter atau orang kaya. Aku hanya salut sama orang baik.
Dimanapun kita berpijak akan selalu ada orang jahat. Selalu ada iblis yang menyerupai manusia. Dan aku percaya. Di manapun kita berada – pasti ada iblis. Disurga sekalipun. Entah di Jawa, entah di Madura. Begitu juga sebaliknya. Pasti ada kebaikan dan malaikat di pelacuran sekalipun.
Aku tak pernah mengindahkan lelucon yang bernafas perpecahan. Tapi aku akan mengukir ugkapan ugapan yang bernafaskan kebaikan. Seperti yang di ungkapkan temanku bahwa dunia itu tak lebih besar dari bijinya salak. Dekatkan mata kita ke biji salak itu maka kita akan temui sekitar menjadi gelap gulita. Tapi ironisnya kita menjadi begitu buas, serakah dengan sesuatu yang tak lebih dari biji salak.
Kemudian ungkapan bila menungso iku akeh, tapi wong iku titik. Mergo sajatine menungso iku manunggaling roso(orang itu banyak tapi manusia itu sedikit karena manusia adalah perwujutan dan penyatuan rasa). Ya. Akan selalu kau ingat ungkapan kebaikan yang memotifasi kita untuk menjadi manusia. Sosok yang bisa memadukan antara akal dengan hati. Sosok yang bisa berbicara dengan hati. Bukan dengan kepentingan. Untuk itu dari hati aku bicara bahwa jangan kita mengkafir kan orang lantas meyahudikan kelompok. Atau jangan-jangan kita adalah intel dari yahudi. Manusia yang sembilan puluh sembilan persen Yahudi.
Citra Dara Vresti T
16 April 09
Kemudian ketka saya masih dalam kebimbangan. Lantas saya mencoba untuk membuka blog komunikasi. Saya menemukan hal yang sama dan juga membuat saya tergetar. Kali ini ungkapannya muncul dari semarang. Juga senafas. “Yahudi dunia adalah Israel. Tapi yahudi Indonesia adalah Madura”.
Saya menadi curiga tentang statemen ini. Jangan-jangan telah menjadi sebuah kosmos yang tak mugkin lagi untuk di hentikan. Apa benar Madura itu seperti apa yang selama ini dibayangkan oleh orang lain. Apa benar madura merupakan lambang dari keserakahan Indonesia?
Kalu menurut teman saya. Alasan yang mendasari ugkapannya – yang menyatakan kalau madura adalah yahudinya Indonesia – karena keserakahan orang madura sama dengan orang Israel. Kemudian perampasan tanah milik orang lain dengan se enak sendiri merupakan hal yang amat biasa di sini. Terus terang aku meragukan apa yang dikataannya. Aku tak pernah menjumpai hal-hal yang dikatakannya lewat di depan mataku sendiri. Kalaupun kau melihatnya langsung. Akupun aka berpikir ribuan kali untuk membenarkan apa yang dikatakannya. Pasalnya tidak adil menilai sebuah kelompok masyarakat dari kacamata hidup kita yang jauh dari kebenaran. Dan tidak pantas kita menyatakan adanya kesamaan antara Israel yang bagsat itu dengan Madura. Hal ini bukan karena saya tinggal dan kuliah di Madura.
Bagi saya hal yang membentuk dunia ini ada dua hal. Baik, buruk. Hitam dan putih. Positif dan negatif. Karena dua kutub itu yang akan menyeimbangkan kehidupan di dunia ini. Hanya kebaikan yang ada di dunia ini, maka hidup akan terkesan mudah. Tidak ada yang dapat menguji seberapa persen dia menjadi manusia. Begitu juga hanya keburukan saja isi dunia ini. Maka tidak akan ada yang namanya kemanusiaan. Dan tentang kebaikan dan keburukan seperti kata FX Rudi Gunawan. Manusia itu pada dasarnya baik. Atau paling tidak ada sedikit kebaikan yang menyertainya. Dan sebaliknya manusia itu pada dasarnya buruk, hanya saja bagaimana dia memperjuangkan kebaikan di dalam dirinya.
Saya kurang sepakat dengan ungkapan diatas karena tidak baik menilai madura tanpa dasar seperti itu. Saya sendiri bukan orang Madura karena saya orang Surabaya. Saya tidak pernah percaya akan simbol-simbol. Baik itu Madura, Jawa, Batak, Dani dan semua suku di Indonesia. Aku tudak pernah melihat itu semua. Aku hanya percaya kepada kebaikan dan humanisme. Begitu pula dengan pandangan hidupku yang juga diajarkan oleh kawanku Amir yang juga orang Madura. Bahwa saya tak pernah salut (kagum) pada orang pinter atau orang kaya. Aku hanya salut sama orang baik.
Dimanapun kita berpijak akan selalu ada orang jahat. Selalu ada iblis yang menyerupai manusia. Dan aku percaya. Di manapun kita berada – pasti ada iblis. Disurga sekalipun. Entah di Jawa, entah di Madura. Begitu juga sebaliknya. Pasti ada kebaikan dan malaikat di pelacuran sekalipun.
Aku tak pernah mengindahkan lelucon yang bernafas perpecahan. Tapi aku akan mengukir ugkapan ugapan yang bernafaskan kebaikan. Seperti yang di ungkapkan temanku bahwa dunia itu tak lebih besar dari bijinya salak. Dekatkan mata kita ke biji salak itu maka kita akan temui sekitar menjadi gelap gulita. Tapi ironisnya kita menjadi begitu buas, serakah dengan sesuatu yang tak lebih dari biji salak.
Kemudian ungkapan bila menungso iku akeh, tapi wong iku titik. Mergo sajatine menungso iku manunggaling roso(orang itu banyak tapi manusia itu sedikit karena manusia adalah perwujutan dan penyatuan rasa). Ya. Akan selalu kau ingat ungkapan kebaikan yang memotifasi kita untuk menjadi manusia. Sosok yang bisa memadukan antara akal dengan hati. Sosok yang bisa berbicara dengan hati. Bukan dengan kepentingan. Untuk itu dari hati aku bicara bahwa jangan kita mengkafir kan orang lantas meyahudikan kelompok. Atau jangan-jangan kita adalah intel dari yahudi. Manusia yang sembilan puluh sembilan persen Yahudi.
Citra Dara Vresti T
16 April 09